Kegiatan wajin tiap sore anak-anak di desaku adalah bermain bola, meskipun dengan lapangan yang tidak luas, cuma memanfaatkan halaman masjid yang kebetulan bisa digunakan sebagai lapangan, itu bukan sebuah masalah bagi mereka, yang penting kesukaan akan bermain bola bisa tersalurkan disana.

Tidak bolah pake alas kaki, karena ini memang ini adalah sepak bola dengan menggunakan bola plastik yang dibeli dengan harga 10rb. Pastinya setiap bola sudah bocor lebar (sobek) makan mereka harus membeli yang baru lagi. Sekali lagi, yang penting bisa maen sepak bola aja mereka udah senang.

selfie


Fotografer adalah mahluk yang kreatif dan artistik. Berbeda dengan seniman di bidang lain, mereka memiliki cara sendiri untuk melihat berbagai objek melalui mata.

Jika kamu meminta dia meletakkan dan menyusun alat makan di atas meja, misalnya, dia bisa butuh waktu lebih lama untuk menuntaskan tugas itu. Dia akan merasa wajib memperhatikan bentuk meja, mempertimbangkan bentuk dan warna piring serta makanan, sebelum menyusunnya sesuai the rule of thirds.

sumber : hipwee.com

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, :Fithrah itu ada lima : 1. Khitan, 2. Mencukur rambut kemaluan, 3. Mencabut bulu ketiak, 4. Memotong kumis, dan 5. Memotong kuku”. [HR. Bukhari]

Inilah adalah beberapa proses penjagalan burungnya si adek sepupuku yang udah ngebet banget minta disunat, gara-gara temen-temen seumurannya udah pada sunat tapi dia belum, padahal masih kelas 4 SD. Sedangkan aku aja dulu sunat waktu kelas 5.

Disuruh sunat kelas 5 dia gak mau, dan alhasil berangkat dengan gagah berani dan sok jentelmen, pas dipotong burunya langsung nangis keras banget. Sampe lemes aku nahan ketawa gara-gara adegan yang satu ini :D

Padahal dulu aku sunat gak kerasa kok, cuman kerasa pas disuntuk pertama dan kedua, itupun karena mungkin obat penghilang rasa sakitnya (obat biusnya) masih belum bekerja, pas udah bekerja gak ada rasa sama sekali proses pemotonganya (yang cewek jangan mbayangi ya :D)

Sorry, foto-foto yang rada fulgar bukan untuk konsumsi publik ya :D


Sekarang sudah disunat/khitan, semoga makin dewasa dan jadi anak yang sholeh, berguna bagu nusa, bangsa dan agama. Serta jangan nakalin adekmu si Amie lagi, nek masih nakal video sunatmu tak sebar ke Youtube loh, wakakkaka.


Semalam jam 00.00wib, aku sama adek sepupu keluar dari bangsal tempat kakak seppupu dirawat di RSI Pekalongan, iseng-iseng kluyuran ke Alun-alun Bebekan, Gemek, Kedungwuni. Rencanya si buat hunting apaan gitu, tapi ternyata sampe sana kecewa karena tidak ada yang unik untuk dicaputer di kameraku, hingga akhirnya ngefoto apapun yang bisa difoto termasuk ngefoto diriku sendiri yang gak jelas gayanya, hingga ngefoto kucing betina yang sedang menyusui anaknya dipinggiran trotoar jalan. 


“Ketika sebuah foto tidak lagi bermakna seribu kata”

Selama ini kita sering medengar kata-kata yang sangat populer dikalangan kita sebagai orang awam dalam dunia fotografi, ataupun kita yang yang sudah lama atau baru sebentar bergelut dalam dunia ini. Kata-kata yang sering diucapkan oleh siapa saja, bahkan kita sendiri sering berkata bahwa,

“Sebuah gambar (foto) bermakna seribu kata”


Tapi, bagaimana seandainya sebuah foto tidak lagi mampu menceritakan/menjelaskan sebuah peristiwa/moments.

Bagiamana bila sebuah foto tidak lagi bermakna seribu kata, bahkan satu kata pun tidak.

Ketika sebuah foto tidak lagi bermakna seribu kata

Selama ini kita sering medengar kata-kata yang sangat populer dikalangan kita sebagai orang awam dalam dunia fotografi, ataupun kita yang yang sudah lama atau baru sebentar bergelut dalam dunia ini. Kata-kata yang sering diucapkan oleh siapa saja, bahkan kita sendiri sering berkata bahwa,

Sebuah gambar (foto) bermakna seribu kata

Tapi, bagaimana seandainya sebuah foto tidak lagi mampu menceritakan/menjelaskan sebuah peristiwa/moments.

Bagiamana bila sebuah foto tidak lagi bermakna seribu kata, bahkan satu kata pun tidak.